My (only one) GrandMa
Holaaa
Long
time no blogging nih, sorry ngga ngelarin cerita sebelumnya.
But
netizen, I gonna tell you something precious. My memories about,
“My
(only one) Grandma J”
Okay,
mulai dari data diri beliau ya.
Nama : Sipar
TTL : Cilacap, (ngga tau, toh si biyung
juga kalo ditanya
kapan tanggal lahir yang sebenarnya, beliau Cuma jawab, “bulan sapar”. Jadi,
adapun tanggalnya yang ada di kartu-kartu pengenal hanyalah tanggal perkiraan,
untuk formalitas saja :D)
Hobi : (ngga tau :D maaf netizen, bukan
berarti saya ingin menyuapi Anda dengan sederetan kalimat tak berisi, ini hanya
pembukaan saja, Saya yakin Anda tahu laah J )
Pekerjaan : nah
ini nih satu-satunya yang saya tahu.
1.
Petani
Beliau semasa
mudanya adalah buruh tani. Anda tahu buruh tani sebenarnya itu apa? Buruh, itu
kan kaya pencari yaa (pencari itu sebutan bagi mereka yang mencari
sesuatu, yang mereka butuhkan, tetapi mereka tidak memiliknya, atau pernah
memilkinya namun sekarang tidak ada) kalau tani adalah kependekan dari petani,
orang-orang yang pekerjaanya dekat dengan tanah, hijau, pupuk dan hama :D .
Yang dimaksud buruh tani adalah, mereka yang mencari hasil panen dari
mengerjakan (mengurusi dan memanen) ladang orang lain, lalu hasilnya dibagi
berdasar perjanjian. Foreland si biyung itu aslinya jauuuuuh
banget (menurut perkiraan orang jaman dulu) dari homestay saat ini.
Biyung ikut Rama
sejakmereka menikah.
Dan usut punya usut, pekerjaan inilah yang mempertemukan mereka.
2.
Pedagang Gula
Ini sih cuman
hajat bantu suami doang, soalnya setelah beberapa lama berburuh tani mereka
ingin mencoba peruntungan lain. Rama yang berburu air nira, biyung yang
membantu mengolahnya menjadi gula jawa. Asyik yah bisa kerja bareng kaya gitu,
haha. Banting setir ngga yah? Engga lah, kan mereka masih di satu aspek
pertanian :D
3.
Penjual Tempe
Nah ini nih
yang masih langgeng sampai saat ini. Alasan moving job? Karena suatu
hari, Rama jatuh dari pohon kelapa dan entah karena cidera atau trauma, Rama tidak
berniat meneruskan pekerjaanya. Bahkan pekerjaan ini menurun ke generasi
selanjutnya loh, khususnya ibuku :D (skip this item)

Oke itu sekilas dari
pekerjaan. Lalu? Apa yang ingin aku bagikan sesungguhnya adalah ini.
beliau adalah satu-satunya
nenek saya yang masih hidup. Namun saya telat menyadari bahwa saya begitu
menyayanginya. Bagaimana bisa saya begitu? Ini selengkapnya.
Sejak kecil,
konon sejak baru disapih saya ditinggal kedua orang tua saya bekerja ke kota,
beberapa tahun mereka berdua di Bandung, lalu ibu kembali ke desa saat saya
hendak masuki Taman Kanak-Kanak. Namun tetap saja ibu bekerja dari pagi hingga
sore hari. Karena saya tidak punya kakak, maka ibu mempercayakan saya pada
nenek saya. tetapi saat itu saya tidak peduli hal ini.
Si kecil Dewi
Nasita hanya memikirkan bermain, bermain dan bermain. Sepanjang hari didalam
hidupnya (saat itu) dihabiskan hanya untuk bersenang-senang. Bahkan saya bisa
lupa makan, mandi, dan pulang. Karena sebegitu masa bodonya saya, nenek sering
memarahi saya. bahkan sering menyeret saya secara paksa, didepan teman-teman
saya. Beliau marah? Saya tidak peduli! Beliau kesal? Saya tidak peduli!
Terlebih lagi, alasannya? Saya tambah tidak mau peduli! Yang saya pedulikan
hanya perasaan saya sendiri. M A L U. Bahkan saya masih ingat betul ekspresi
muka saya. Saya marah! Saya malu! Ketika teman-teman saya bermain ditemani
ibunya, saya malah dilarang bermain oleh nenek saya.
Lalu saya
dinasehati nenek, sambil membungkus tempe. Ah bodoamat! Saya hanya membisu,
seolah mendengarkan padahal saya acuh. Nenek dibantu 3 orang tetangga untuk
menyelesaikan
menjadi bungkusan
tempe, dan ketiganya wanita paruh baya. Setelah lelah menceramahi patung,
biyung lanjutkan mengobrol dengan lainnya. Bisa Anda bayangkan readers,
apa yang terjadi jika minimal 2 orang wanita paruh baya yang oleh karena
usianya sudah tak muda lalu (selalu) merasa telah banyak memakan asam garam
berkumpul/bertemu? Yaa. Alur pembicaraan mereka melayang-layang tak tentu
arahnya.
Tapi entah
bagaimana, tutur kata yang keluar dari mulut mereka terdengar seperti gumaman
dongeng yang mengantarku tidur. Saya tidur di risban. Hoammm
(bahkan saya
masih ingat bagaimana panasnya risban nenek di siang hari dengan baunya yang
khas, dan jajaran gendeng yang membentuk salur sangat unik jika dilihat dari
dalam rumah, dengan angle horisontal)
Dan begitulah
kejadian tersebut terulang setiap harinya, hingga saya sadar,
Bukan karena
saking asiknya bermain hingga saya melupakan keluarga dirumah, tapi saya
kesepian.
Bukan karena
saya tidak mau pulang, saya hanya tidak tahu caranya pulang. Saya tidak tahu
bagaimana caranya izin pulang. Bagaimana caranya mengakhiri kesenangan ini?
Yang saya tahu hanya bagaimana untuk datang, dan memuaska diri disana. Tertawa,
bermain, dll. Bahkan saya terlalu naif untuk berpesan agar dijemput sepulang
bermain, atau sesederhana meminta dipanggil saat waktu makan telah tiba. Bahkan
saya mulai menikmati omelan ringan biyung, mendengarnya saja bisa membuatku
berkata dalam hati “Wuah, waktu kikukmu telah usai. Kau dirumah sekarang!”
Sejauh ini,
apakah Anda pikir saya nakal?
Mohon jangan
berfikir begitu. Karena berburuk sangka tidak baik bagi manusia. Saya merasa,
alasan saya ragu untuk berpamitan adalah karena saya tahu tidakenaknya
ditinggalkan. Saya takut mereka masih membutuhkan saya.
Oleh karena
itu, yang bisa saya lakukan hanyalah berpamitan dan menyertakan tujuan saya
pergi. Dengan harapan, nenek bersedia menjemput saya dengan teriakannya yang
semakin hari semain melirih, atau kedatangannya dengan tubuhnya yang semakin
hari semakin ringkih.
Apakah
secepat itu perasaan benci mendengar omelannya menjadi suka?ABSOLUTELY NOT!!
Awalnya, rentetan
kejadian yang saya alami setiap hari itu hanya membuat saya mulai membenci nenek saya, bukan. Bukan
membencinya. Saya hanya tidak menyukai saat bersamanya. Dan saya menjauh.
Daripada tidur dirumah nenek, saya lebih memilih tidur di rumah sendiri,
meskipun dirumah saya hanya seorang diri. Takut? Tentu. Tapi saya tak mau
kembali kesana dan merasakan hal kemarin lagi. bahkan saya memilih untuk memasak
mi instan dirumah, daripada memakan masakan nenek. Ya meskipun dengan mental
anak TK yang masih takut pada api di atas kompor. Sombong? Bukan. Sebenarnya
perasaan ini sederhana saja, saya hanya cemburu pada cucu nenek yang lannya.
Saya ingin di
beri uang saku oleh nenek sepeerti cucu lainnya, saya ingin di senyumi nenek
seperti cucu lainnya, arghhhh semua harapan itu hanya membuatku dongkol. Fix!
Saya menepi.
Bahkan suara
merdu gumaman dongeng yang biasanya tersaji diatas karpet usang diatas risban pun
sudah melirih diterpa menderunya benci.
Srek. Srek.
Srek. Saya pertegas langkah saya. Saya pulang.
Dan semua yang
saya ceritakan diatas, hilang. (kecuali bagian
dimana saya bermain. Hanya saja lokasinya lebih variatif)
Bertahun tahun terlewati,
Hingga saya
SMA,
Dan suatu hari
ayahku mengajakku ke tempat mbah. (“Mbah? Mbah yang mana? Bukankah ayahku yatim
piatu sejak kecil?” bahkan saya berpikir demikian) Saya bertanya banyak, namun
hanya bingung yang saya dapat. Saya hanya memutuskan untuk mengikuti ajakannya.
Dan
diperjalanan, saya melihat nenek-nenek tua, renta. Dia bersepeda, diantara
banyaknya pengguna jalan raya yang
memakai kendaraan bermotor.
Deg!!!
Jantung ini,
hati ini, terasa aneh. Apa ini? Saya merasa iba, kesal. Iba karena setua itu, dia pergi sendiri. Dimana anaknya? Cucunya? Atau
tetangganya?
Merenungi lebih
lama kejadian ini, saya malah merasa bersalah sendiri. Lalu bagaimana dengan
saya? apa bedanya dengan saya dan keluarga nenek itu?
Astaghfirullah,
Yaa Allah. . . .
Saya alihkan
pemikiran kepada padatnya lalu lintas jalan, maklum, saat itu masa lebaran.
Banyak kendaraan berlalu lalang.
Singkat cerita,
saya sampai di rumah yang menjadi tujuan awal.
Ketika melihat
yang membukakan pintu,
Astagfirullah,,,,,,,,,,
Kulit tangannya
yang mulai dikendorkan usia,
Dagingnyaa yang
mulai disusutkan umur,
Allah, aku
ingin langsung memeluknya. . .
Namun saya
tahan. Karena,
Emm,
sebenarnya saya jaim-an orangnya.
Mbok
Disem, namanya. Dia adalah adik dari nenek kandung saya, nenek dari ayah saya.
singkatnya, bibinya ayah saya.
Saya
hanya duduk disuatu sudut dengan tidak berhenti memandangi beliau. Ah,
senyumnya. . .
Pipinya
yang mulai mengendor, dan banyak garis nan berkerut di wajahnya, namun mampu
mengembangkan senyum yang MasyaAllah cantiknya. . .
Yaa
Allah, inikah yang dinamakan kasih sayang sejati? Kemana saja hamba selama ini?
Hamba malah mencari sumber cinta yang tidak halal. .Yaa Allah. . . ampuni hamba
ini L
Tentu
disana saya lebih banyak diamnya. Bahkan diamku mengakhri pertemuan waktu itu.
Saya
pulang, membawa cinta baru.
Dan
sejak itu perasaan saya lebih didominasi oleh kasih, inilah kekuatan cinta yang
mampu menepiskan ego. Cinta dari lawan jenis yang belum halal? Sudah lama saya
kesampingkan. Memang saat itu saya sedang memasuki masa baru diputusin J
Tapi
saya menemukan gantinya, bukan, tepatnya saya baru menyadari cinta yang
sebegitu besarnya, sebegitu dahsyatnya, meskipun perantaranya hanya iba, lalu
dipertemukan dengan senyum, dan sampailah cinta. Alhamdulillah Yaa Allah,
terimakasih karena telah menciptakan cinta J
“Jika
ada kesempatan untuk berjumpa dengan beliau lagi saya ingin memotretnya.”
Begitu batin saya.
Dan
benar juga. Untuk apa HP saya selama ini? Menyimpan foto kekasih tak halal yang
ujungnya bikin hati terjagal? Dimana ada foto bibiku? Sepupuku? Sanak keluarga
lainnya?
Menyimpan
foto idola yang jauhnya tiada tara dari diriku? Dimana foto tetanggaku yang
selalu menjawab ketika saya bertanya “lihat ibuku?”??
Ah,
diriku. Betapa meruginya kau!
Kesempatan
itu tiba, dan saya mengambil foto saya bersama ayah, ibu dan Mbok Disem.
Indahnya saat itu, MasyaAllah.......
Sekarang
Mbok Disem telah duluan di panggil, kontraknya dengan Yang Maha Mencipta telah
usai. .
Dan
hal itulah yang membuat saya tergerak untuk menulis ini. Setelah kepergian
beliau, saya merasa bahwa tidak sepantasnya saya membiarkan satu-satunya nenek
saya merasa hawatir, apalagi sampai bertanya “apakah saya seorang nenek? Lalu
dimana cucu-cucu saya?”
Yea,
i still trying to be good, although I know, I don’t that good.
Love
you GrandMa :*
I
don’t hope to be inspire you,
I
just hope may Allah open your heart too..
This
is all from me now,
See
you next chance readers ;)
-biyumg adalah sebutan jawa ngapak untuk nenek
-rama adalah sebutan jawa ngapak untuk kakek
Komentar
Posting Komentar