RESENSI NOVEL AKAR

Resensi Novel Supernova Dua "Akar" • Oleh : Danang Gimayanto Eko A • Judul : Supernova Dua berjudul “Akar” • Penulis : Dewi Lestari Simangunsong “Dee” • Penerbit : Bentang Pustaka (Mizan Group) • Tahun Terbit : 2002 • Tempat Terbit : Jakarta • Tebal : 288 Halaman • Panjang Buku : 200x135x0 mm • Ilustrasi Buku : Merah tua, hitam dan putih; Warna dasar hitam dan terdapat lingkaran yang berisi bunga warna merah tua serta tulisan warna merah dan putih. Sukses dengan novel pertamanya, Dee meluncurkan novel keduanya, Supernova Dua berjudul "Akar" pada 16 Oktober 2002. Novel ini sempat mengundang kontroversi karena dianggap melecehkan umat Hindu. Umat Hindu menolak dicantumkannya lambang OMKARA/AUM yang merupakan aksara suci BRAHMAN Tuhan yang Maha Esa dalam HINDU sebagai cover dalam bukunya. Akhirnya disepakati bahwa lambang Omkara tidak akan ditampilkan lagi pada cetakan ke 2 dan seterusnya. Kemampuan pengarang memaparkan tulisan dengan sangat baik merupakan salah satu kekuatan novel ini. Tidak begitu nampak korelasi antara buku ini dengan serial yang pertama, jadi para pembaca tidak tak perlu beradaptasi begitu lama dengan daya dan gaya berpikir Dee. Penokohan misterius dalam novel ini. Tokoh dengan identitas tak sempurna, layaknya titipan dari langit yang jatuh di bumi. Seperti yang satu ini, pria berkepala plontos dengan tulang yang menonjol di belakang kepala (membuatnya terlihat seperti monster), ia tak punya rumah menetap, tak tahu tanggal lahir juga dari rahim mana ia lahir, dan menjadi salah satu anggota komunitas punk. Satu hal yang ia tahu adalah namanya, Bodhi Liong. Setelah memberikan banyak pemahaman tentang “fisika-filsafat” di serial Supernova pertama, serial keduanya ini hadir dalam konsep-konsep Budhisme. Manusia, haruslah menyelesaikan atau menuntaskan tugas akibat dari perbuatannya di masa lalu. Bereinkarnasi kembali ke dunia dalam kemisteriusan. Buku setebal 288 halaman ini jika dibandingkan dengan serial pertama lebih ringan dengan konsep-konsep yang dijelaskan secara mengalir. Pembaca seperti melihat pengalaman hidup seseorang yang di tubuhnya telah tertanam sebuah tugas yang harus ia selesaikan. Hal yang lebih berat di buku ini tentu saja perpindahan latar di berbagai negara. Dan penulis menyelesaikan itu cukup baik. Kenapa sekadar cukup baik? Karena menurut saya Dee masih belum mengeksplor banyak hal dari setting untuk dapat berkonstruksi di pikiran pembaca. Padahal, jika pembangunan setting lebih detil lagi, pembaca akan semakin keasyikan dan terbuka mata memandang dunia. Juga penggambaran wilayah bergejolak yang tak sepenuhnya tertransfer. Opini Di buku ini saya sempat sedikit berharap sajian kisahnya mirip dengan buku pertama: Ksatria Putri dan Bintang Jatuh, yaitu banyak menyajikan aspek filsafat postmodern, psikologi, fisika kuantum dan beberapa tinjauan sains. Namun ternyata buku kedua ini hanya cerita novel yang biasa. Buku kedua ini masih setia dengan istilah “Keping” untuk menggantikan fungsi dari “Bab”. Di buku ini terdapat tiga keping yang angkanya adalah lanjutan dari buku pertama sehingga di sini tiga keping itu dinomori 34, 35 dan 36. Cerita di novel ini cukup seru karena Dee nampaknya memahami betul tentang banyak tempat di beberapa negara di Asia sekaligus bahasa-bahasanya. Hal ini dijadikan novel “Akar” ini sedikit bisa menjadi semacam catatan travelling backpacker. Jika anda membaca novel ini, mungkin Anda tidak bisa berhenti di tengahnya. Novel ini mampu membuat pembacanya terus tertarik hingga akhir cerita. Latar dan alur cerita bagitu jelas mampu membuat Anda merasa ikut dalam ceritanya. Alur cerita yang menarik dan penuh dengan amanat, juga dapat membuat pembaca lebih tertarik. Karena itu cobalah membaca novel ini dan nikmatilah cerita yang dibawakannya. Judul : SUPERNOVA #2 : AKAR No. ISBN : 9786028811712Penulis : Dewi Lestari (dee)Penerbit : Bentang PustakaTanggal terbit : April - 2012Jumlah Halaman : 288Novel Supernova Episode Akar ini tentang kehidupan Bodhi, dalam berpetualang sebagai backpacker. Petualangannya dalam rangka menemukan “kesejatian”.. Kesejatian tersebut diharapkan dapat menjawab pertanyaan yang selama ini jadi bahan perenungan dan kebimbangan Bodhi. Bodhi adalah seorang yatim piatu dan dia ingin mengetahui darimana asalnya sesuai dengan judul novel ini yaitu Akar. Bodhi adalah yatim piatu dibesarkan di wihara oleh Guru Liong Petualangan Bodhi berawal dari Medan hingga ia sampai di Bangkok. Di sana ia bertemu dengan Kell, seorang ahli tato. Kell mengajari Bodhi mentato. Kemudian Bodhi pergi ke Laos untuk mencari ketenangan. Setelah itu ia kembali ke Thailand dan ternyata Kell sudah tidak berada di Thailand lagi.Lalu Bodhi pun berniat mencari Kell, dan akhirnya Bodhi bertemu dengan Kell di Kamboja. Lalu Bodhi kembali ke Indonesia, dan Bodhi bergabung dengan komunitas punk yang dipimpin oleh Bong. Lalu Bodhi menjadi seniman tato dan penyiar radio gelap. Dan Bodhi masih terus mencari akar asal-usulnya selama perjalananya.Novel ini mengangkat sebuah kehidupan yang serba tidak pasti yang digambarkan lewat kehidupan seorang Bodhi dengan perjalanan backpacking-nya. Dalam kehidupan ini kita tidak tahu pasti apa yang akan kita hadapi.• Hidup ibarat memancing di Kali Ciliwung. Kamu tidak pernah tahu apa yang akan kamu dapat: ikan, impun, sendai jepit, taik, bangkai, dan benda-benda ajaib lain yang tak terbayangkan. Dan nggak perlu dibayangkan. Jangan pernah tebak-tebakan dengan Ciliwung tentang isi perutnya. Terima kasih. (halaman 199) • Bangkok merupakan babak baru. Kelahiran baru. Berbekal bahasa Mandarin sepotong-sepotong, Inggris seadanya, dan bahasa Pali —yang sedikit banyak dipakai, setidaknya oleh komunitas Buddhis— saya belajar bertahan. Buku dari Tristan saya baca setiap hari. Dan sedikit demi sedikit mencoba mulai belajar bahasa Thai, dimulai dengan cuma ngomong 'sawat-dii krup' [kalimat kedua yang kukuasai adalah phom kin tae phak = ‘saya cuma makan sayur’]. (halaman 48) Tapi salah naik bus ke Butterworth-lah yang akhirnya mempertemukanku dengan Tristan Sanders, backpacker gondrong asal Australia yang sedang berkeliling Asia Tenggara. Aku dibawa ke komunitasnya, sesama backpacker. Mereka berkumpul di Butterworth dan ramai-ramai mau pergi ke Thailand lewat darat. Di antara mereka ada yang sudah backpacking di Asia selama lima-sepuluh tahun, bahkan lebih. Ada yang mulai jalan sejak umur empat belas tanpa berhenti. Kalau bicara soal sebab-musabab dan motivasi, jelas macam-macam. Dorothy—yang keluar rumah sejak umur empat belas itu—alasannya ribut dengan ortu. Ia angkat kaki dari Greenwich dan tak pernah pulang lagi. (halaman 45-46) • Tristan berkata, “Bodhi, my baldy mate, saya tahu kamu bisa menjaga diri. Tapi, kalau ada apa-apa, ingatlah untuk mencari kami-kami ini,” katanya sambil menepuk ransel besar di punggung. Identitas kaumnya. Dia lalu memberikan daftar nama, nomor kontak, alamat e-mail, kafe, dan hotel. Dan saya tahu kamu tidak memiliki cukup uang untuk membeli ini, lanjutnya lagi, tapi kamu harus punya. Tristan menyerahkan sebuah buku: Lonely Planet Thailand'. Travel Survival Kit. (halaman 47) Kesetiakawanan paling kuat dalam novel adalah kesetiakawanan antara Bodhi dan Kell. Kell yang memang dari awal sudah mencari Bodhi karena ikatan batin, menolong Bodhi dalam mengatasi masalahnya. Kell juga yang banyak memberi nasehat kepada Bodhi dan mengarahkan jalan Bodhi. Hubungan antara Bodhi dan Kell sangat erat sampai Bodhi nekat menyeberang ke Laos dengan menempuh bahaya untuk menemukan Kell.keunggulan : novel ini mengajarkan kita untuk tidak mudah putus asa , dan setia kawan jalan cerita dalam novel ini sangat menarik sehingga membuat pembaca tidak bosan kekurangan : banyak kata - kata asing yang membingungkan Supernova: Akar by Dee My rating: 4 of 5 stars detail info: Paperback, 202 pages Published 2012 by Penerbit Bentang (first published 2002by Truedee Books ) ISBN: 9799625726 edition language: Indonesian original title: Supernova: Akar series: Supernova #2 characters: Bodhi url: http://www.bookoopedia.com/id/book/id-60480/supernova-akar.html Sinopsis Novel ini terdiri dari 3 keping (bab) Keping pertama adalah jembatan antara buku pertama: Ksatria, Putri dan Bintang Jatuh dan buku kedua ini. Di sini kisah Gio akan berlanjut. Tapi kisahnya tidak begitu menyenangkan karena mendapatkan kabar bahwa Diva menghilang dalam sebuah ekspedisi sungai di pedalaman Amazon. Keping 34 yang merupakan awal dari novel “Akar” ini cukup singkat dan berakhir di keputusan Gio untuk mencari Diva. Keping 35 adalah inti dari novel ini karena disinilah “Akar” itu akan diceritakan dengan proporsi paling banyak. Keping ini menceritakan tentang seseorang yang bernama Bodhi yang mempunyai kisah masa lalu yang sangat unik dan ajaib. Bodhi pada awalnya tinggal di wihara dan dibesarkan oleh Guru Liong. Akhirnya nasib menggiringnya untuk berpetualang meningalkan wihara tersebut. Awal dari penjelajahan Bodhi di awali di Bangkok kemudian ke Laos, kembali lagi ke Bangkok dan akhirnya ke Kamboja dengan petualangan yang makin seru karena Kamboja adalah area konflik para pasukan pemberontak. Dalam petualangannya itu, Bodhi bertemu dengan orang-orang hebat yang mengubah nasibnya. Pelajaran hidup akan selalu didapat dimanapun dia berada. Kadangkala seseorang yang ditemui di suatu tempat akan bertemu lagi di tempat lain dengan suasana yang benar-benar ajaib dan berbeda seolah melengkapi nasib diantara keduanya. Hingga akhirnya kisah Bodhi di buku ini akan berakhir di Keping 36 yang nampaknya akan menjadi sebuah jembatan kisah yang akan menghubungkan kisah di buku ketiga. Opini Di buku ini saya sempat sedikit berharap sajian kisahnya hampir sama dengan buku pertama: Ksatria Putri dan Bintang Jatuh, yaitu banyak menyajikan aspek filsafat postmodern, psikologi, fisika kuantum dan beberapa tinjauan sains. Namun ternyata buku kedua ini hanya cerita novel yang biasa. Mungkin hanya tokoh Reuben dan Dimas yang cocok dengan pembahasan-pembahasan macam itu sedangkan di buku kedua ini mereka sama sekali tidak ada. Buku kedua ini masih setia dengan istilah “Keping” untuk menggantikan fungsi dari “Bab”. Di buku ini terdapat tiga keping yang angkanya adalah lanjutan dari buku pertama sehingga di sini tiga keping itu dinomori 34, 35 dan 36. Cerita di novel ini cukup seru karena Dee nampaknya memahami betul tentang banyak tempat di beberapa negara di Asia sekaligus bahasa-bahasanya. Hal ini enjadikan novel “Akar” ini sedikit bisa menjadi semacam catatan travelling backpacker.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

DRAFT